Senin, 16 Mei 2011

POSKO SPGDT

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Pengalaman penyelamatan bencana alam yang terjadi di Indonesia pada beberapa waktu terakhir ini seperti Gempa Bumi dahsyat yang melanda Provinsi DIY dan sebagian Jawa Tengah pada Bulan Mei tahun 2008, telah memberikan banyak pelajaran yang berharga bagi kita semua. Pengalaman memperlihatkan bahwa keberadaan posko tanggap darurat bencana sangat vital tidak hanya dalam koordinasi tetapi juga bagi up dan pencegahan berbagai masalah kesehatan yang lebih parah akibat bencana.
Posko sangat diperlukan dalam penanganan bencana/musibah dikarenakan pengungsi/ masyarakat yang terkena musibah rawan terhadap masalah sosial, terjangkitnya penyakit baik secara fisik maupun secara psikologis. Oleh karena itu, masyarakat dan petugas kesehatan yang berhadapan langsung dengan situasi ini harus cepat dan tanggap untuk mendirikan tempat posko pelayanan.

B.Tujuan
1.Untuk mengetahui konsep SPGDT
2.Untuk mengatahui tujuan SPGDT
3.Untuk mengetahui sistem penanganan penderita gawat darurat
4.Untuk mengetahui komponen pra Rumah Sakit
5.Untuk mengidentifikasi desain posko kesehatan
6.Untuk mengidentifikasi sarana pendukung posko kesehatan
7.Untuk mengidentifikasi obat-obatan yan diperlukan pada posko kesehatan
8.Untuk mengetahui bahan dan jenis makanan yang diperlukan pada posko kesehatan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu)
A. Konsep
Keadaan gawat darurat terjadi bisa kapan saja, dimana saja dan menimpa siapa saja. Dalam penanganan penderita yang datang di IRDA harus bisa dibedakan:
1. Pasien Gawat Darurat
Pasien yang tiba - tiba berada dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam kelangsungan hidupnya atau akan menjadi cacat bila tidak mendapatkan pertolongan secepatnya.
2. Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat Misal : kanker stadium lanjut.
3. Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien yang akibat musibah tiba - tiba harus mendapatkan pertolongan, tetapi disini tidak ada ancaman terhadap kelangsungan hidupnya. Misal : Luka sayat.
4. Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat
Misal : pasien ulcus tropicum
B. Tujuan
1. Mencegah kematian dan cacat [ to save life and limb ] pada penderita gawat darurat, sehingga dapat hidup dan berfungsi kembali ke dalam masyarakat sebagaimana mestinya.
2. Merujuk penderita gawat darurat ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih memadai.
3. Menanggulangi bencana
4. Untuk bisa mencapai tujuan ini, diperlukan sesuatu pendekatan Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), sehingga pelayanan akan bisa optimal, terarah dan terpadu.

C. Sistem penanggulangan penderita gawat darurat
Kelangsungan hidup pasien sangat tergantung dari :
• Kecepatan & ketepatan pertolongan pertama di tempat kejadian.
• Kualitas pertolongan oleh petugas ambulans & kualitas Ambulans Gawat Darurat (Ambulans 118)
• Kualitas pertolongan di IRDA RS
• Rujukan ke RS yang tepat
Untuk inilah di dalam sistem penanggulangan penderita gawat darurat harus meliputi :
1. Penanggulangan penderita di tempat kejadian
2. Transportasi
3. Sarana komunikasi
4. Rujukan
5. Penanggulangan penderita di Rumah Sakit [ IRDA ]
6. Pembiayaan

D. Komponen Pra Rumah Sakit.
1. Sub Sistem Sumber Daya Manusia
• Keberhasilan penanganan penderita gawat darurat sangat dipengaruhi oleh kecepatan & ketepatan penderita mendapatkan pertolongan, serta kecepatan minta bantuan tenaga medis.
Karena biasanya penderita gawat darurat ini ditemukan oleh orang awam, maka sangatlah penting untuk memberikan pengetahuan pada orang awam bagaimana caranya memberikan pertolongan.


• Orang awam ini dibagi dibagi 2 yaitu :
Awam biasa :
- Guru
- Pelajar
- Pengemudi kendaraan
- Petugas hotel, restoran.
Awam khusus :
- Anggota polisi
- Anggota pemadam kebakaran
- SATPAM
- HANSIP
- Petugas DLLAJR
- Aparat SAR
- PMR
• Untuk orang awam sebaiknya mempunyai ketrampilan :
- Cara meminta pertolongan
- Resusitasi Jantung Paru
- Cara memasang bidai
- Cara transportasi.
• Tenaga paramedis , kemampuan yang harus dimiliki :
- Resusitasi pernafasan
- Sistem sirkulasi
- Sistem vaskuler
- Sistem saraf
- Sistem imunologi
- Sistem gastro intestinal
- Sistem skeletal
- Sistem kulit
- Sistem reproduksi
- Sistem farmakologi / toksikologi
- Sistem organisasi
• Tenaga Medis / Dokter Umum
- Seperti paramedis tetapi lebih mendalam
2. Sub sistem transportasi
 Tujuan :
Memindahkan pasien dari tempat kejadian atau mendekatkan fasilitas pelayanan kesehatan ke penderita gawat darurat.
 Prinsip :
- Tidak boleh memperberat keadaan umum penderita.
- Dikerjakan bila keadaan umum sudah stabil
- Ke tempat pelayanan yang terdekat & tepat
 Sarana :
* Darat :
- Tradisional : - Orang
- Tandu
- Kereta kuda
- Modern : - Kendaraan Umum
- Ambulans : - Transport
- Gawat Darurat
* Laut :
- Tradisional : - Perahu
- Rakit
- Modern : - Perahu motor
: - Ambulans laut
* Udara : - Rotary wing / Helikopter
- Fixed Wing / pesawat terbang
c. Sub sistem komunikasi
 Tujuan :
- Memudahkan masyarakat minta pertolongan.
- Mengatur, membimbing, pertolongan medis di tempat kejadian & selama perjalanan ke Rumah Sakit.
- Mengkoordinir pada musibah massal
 Jenis Komunikasi
- Telepon, Faximile, Teleks
- Radio Komunikasi
- Komputer / internet




II. POSKO KESEHATAN
A. Desain posko kesehatan
1. Tempat
Menyediakan tempat adalah tahap penting untuk diperhatikan. Mendirikan tenda atau memanfaatkan gedung yang masih aman dan bisa digunakan sebagai tempat menampung dan melayani pengungsi.
Dalam mendirikan tenda sebaiknya memperhatikan hal-hal:
1) Tempat yang lapang dan datar
2) Struktur tanah tidak labil
3) Mudah dijangkau
4) Penyekatan dalam tenda untuk menjaga privasi pengungsi
2. Dapur umum
Dapur harus ditempatkan pada satu lokasi, lebih disukai jika berada dalam satu bangunan dan dipagar. Ruang dapur ditata untuk keperluan menampung air, pencucian dan membersihkan makanan, pengadaan awal, masak, penyiapan makanan sebelum disajikan dan pencucian alat-alat makan dan alat masak. Pada umumnya penyelenggaraan dapur umum dapat dilaksanakan di dalam ruangan maupun diluar ruangan. Apabila di dalam ruangan diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Tidak ada kemungkinan kebakaran
2) Lokasi baik, tempat tidak rusak
3) Mempunyai lantai yang kuat
4) Cukup cahaya
5) Cukup persediaan air atau sumber air
6) Ada fasilitas kamar mandi dan jamban
7) Dekat dengan tempat pemberian makanan
8) Dekat dengan jalan
Jika di luar ruangan, beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1) Tempatnya datar, kering dan tidak banyak binatang kecil
2) Ada pohon-pohon sebagai pelindung
3) Dekat dengan tempat pemberian makanan
4) Dekat dengan tempat pembekalan
5) Dekat dengan sumber air
6) Tidak ada benda-benda atau logam yang berbahaya
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah :
1) Susun tempat masak sedemikian rupa
2) Tempat makan dibuat beberapa jalur
3) Arah pembagian makanan ditentukan dengan petunjuk
4) Alat dapur darurat hendaknya diatur sedemikian rupa
5) Tempat pencucian hendaknya sesuai dengan urutan kerja

B. Identifikasi sarana penunjang posko kesehatan
Penyediaan sarana pendukung ini, tentu tidak serta merta akan bisa dilakukan tetapi memerlukan tahapan upaya yang dimulai dengan koordinasi dan pengerahan warga. Kondisi akan sangat dipengaruhi besar kecilnya bencana yang terjadi dan kesiapan masyarakat. Kesiapan yang dimaksud adalah ketika maasyarakat telah memiliki rancangan jauh sebelum bencana itu sendiri terjadi.
1. Sarana air bersih dan jamban
Sarana air bersih dan jamban yang memenuhi syarat kesehatan mutlak diperlukan untuk mencegah munculnya penyakit pada pengungsi. Banyak sekali penyakit yang bisa dicegah dengan penyediaan air bersih dan jamban yang memenuhi syarat kesehatan.
2. Tembat pelayanan kesehatan
Jika dimaksudkan pula untuk pelayanan kesehatan, tempat pelayanan diatur sesuai dengan jenis-jenis pelayanan yang akan diberikan yang disepakati dengan petugas kesehatan yang ada.
3. Tempat pembuangan sampah
Tempat pembuangan sampah/kantong plastik sampah juga perlu untuk dibuat khususnya ketika pos ditujukan juga untuk pelayanan kesehatan karena sampah medis (dari pelayanan medis) bisa saja berasal rai pasien yang terkena penyakit infeksi / menular yang bisa menyebar jika pembuangannya tidak diatur dengan baik.
4. Furniture
Dilengkapi furniture (disesuaikan kondisi di lapangan) untuk tempat pelayanan, baik untuk petugas, pasien, tamu maupun bagi pemberi sumbangan. Dilengkapi dengan sarana administrasi, baik untuk mencatat pelayanan yang diberikan, maupun bantuan yang diterima, serta pendistribusiannya. Bila memungkinkan, disediakan tisue basah dan bahan antiseptik lainnya sebagai pengganti air
5. Penerangan
Mengupayakan penyediaan penerangan yang memadai yang bisa berfungsi 24 jam (petromak, lampu tempel, senter dll). Jika dimungkinkan menyediakan atau menyiapkan genset dan kabel yang bisa saja diperoleh dari anggota masyarakat yang memiliki, sumbangan dan lain sebagainya.
6. Kebutuhan normatif korban
Kebutuhannormatif korban meliputi pakaian luar dan pakaian dalam, pembalut wanita dan perlengkapan bayi.
Peralatan yang perlu untuk pengadaan posko kesehatan, antara lain sebagai berikut:
a. Tenda
b. Tali, tongkat
c. Tikar/ pengalas buat tempat tidur/istirahat
d. selimut

C. Identifikasi obat-obatan yang diperlukan pada posko kesehatan:
Obat-obatan yang diperlukan dalam posko kesehatan secara umum adalah sebagai berikut:

1. Betadine
2. Kassa/perban
3. Kapas
4. Antibiotik
5. Parasetamol
6. Diaform(obat untuk diare)
7. CTM
8. Dexa
9. Tablet tambah darah (Fe)
10. Obat asma
11. RL (Ringer Laktat)
12. Infus set
13. Abocate
14. Salep/bedak gatal

D. Penyediaan dan pengawasan makanan dan minuman
1. Pelayanan gizi pada bencana di posko : Pada keadaan dimana belum tersedianya fasilitas dan sarana air bersih maka tidak ada salahnya untuk memberikan makanan yang siap saji kepada warga pengungsi baik makanan kaleng, susu evaporasi dalam kaleng, buah-buahan, roti dan lainnya yang siap santap yang berasal dari sumbangan. Apabila bantuan tersebut belum datang yang harus diperhatikan pertama adalah ketersediaan berbagai sumber bahan makanan yang ada yang berhasil dikumpulkan oleh warga. Penting untuk memperhatikan terlebih dahulu kelompok rentan yaitu bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia dan pasien.
2. Untuk menghindari terjadinya masalah gizi / malnutrisi yang berat pada bayi dan anak khususnya dibawah dua tahun maka yang harus dilakukan adalah mendorong ibu-ibu bayi untuk memberikan ASI.
a) Mengontrol ketat distribusi dan penggunaan susu pengganti ASI (susu formula) pada bayi dibawah umur 6 bulan untuk mengurangi kasus diare pada bayi yang bisa berakbat fatal dalam waktu singkat.
b) Menyiapkan makanan pendamping bagi balita
c) Mempermudah akses prioritas kepada seluruh ibu, pengasuh bayi, balita, anak-anak dan lanjut usia ke berbagai bahan makanan
d) Memprioritaskan perlindungan kesehatan pada kelompok rentan
e) Melakukan pencarian terus menerus kepada anak yang kurang gizi
f) Melakukan intervensi secepat mungkin sejak awal kejadian
g) Mengurangi stres mental maupun fisik dengan menciptakan dan mempertahankan lingkungan sosial yang kondusif bagi pengungsi. Diperlukan kepemimpinan yang baik dan kuat dalam kondisi ini
h) Memantau dan mengkoordinasikan kejadian secara terus menerus
Pengawasan makanan : Makanan yang diberikan kepada warga pengungsi banyak yang datang dari bantuan dermawan, baik makanan siap santap, maupun bahan makanan mentah atau yang perlu pengolahan. Oleh karena itu, petugas kesehatan di posko harus memperhatikan makanan-makanan bantuan baik siap santap. Adapun yang perlu diperhatikan adalah:
1) Tanggal kadaluarsa
2) Basi/keadaan hampir basi
3) Bentuk bahan apakah masih sesuai dengan keadaan normal dan apaka masyarakat terbiasa makan makanan tersebut karena dapat mengakibatkan keracunan ataupun alergi


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Sitem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) merupakan penanganan awal dan pertolongan pertama sebelum korban dibawa ke Rumah Sakit dan mendapatkan penanganan medis lanjutan, misalnya pada saat terjadi bencana alam. Salah satu hal penting yang perlu ada pada saat terjadi bencana alam yaitu posko kesehatan, dimana penderita gawat darurat atau korban dapat ditangani pada posko kesehatan ini.

B. SARAN
Diharapkan semua orang akan mempunyai kesiapan dalam upaya penyelamatan dan mengurangi dampak kesehatan yang buruk apabila terjadi bencana.


DAFTAR PUSTAKA

Meyliani, Niken. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya.
www.dinkes.jogja.prov.do.id
Hamdan. 2006. Gempa Dahsyat Jogja. Online: http://gempa-dahsyat-jogja.com. 5 April 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar